Cara Menghilangkan Rasa Iri Dan Dengki Dalam Islam

Ujub dan dengki seringkali hadir lubuk hati kita. Rasa bangga momen berkat anugerah dari Allah yang berujung lega kesombongan dan tidak mengingat-ingat bahwa Tuhanlah yang menerimakan anugerah itu. Juga, rasa tidak senang ketika seseorang mendapatkan lemak. Kedua penyakit ini mesti kita jauhi.

Ujub dan dengki menuduh kelihatannya pun, segala apa pun profesinya. Jikalau dalam dunia bisnis, maka ujub dan dengki akan menuding dengan cangkok kemangkakan bahwa penghasilan nan anda peroleh seluruhnya dihasilkan oleh dirinya, kemudian timbullah sifat snobis dalam dirinya, juga ketika menyibuk anak adam enggak mendapatkan hasil yang lebih dari dirinya, maka dia juga iri dan mendengki.

Selain contoh di atas, sifat ujub dan cemburu juga kerapkali menyerang hati koteng yang semenjana menuntut guna-guna. Rasa dengki sering hadir ketika temannya punya kecerdasan yang bertambah dibanding dirinya, sekali lagi sifat ujub kerap hadir ketika dirinya mempunyai bakat dan intelek yang melebihi n partner-temannya, sehingga aturan takabbur sekali lagi tumbuh dalam hatinya.

Padri an-Nawawi dalam kitabnya
at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qur`an
telah memperingati orang-orang yang menuntut ilmu supaya tidak dijangkiti kedua sifat ini. Beliau mengatakan:

وَمِمَّا يَجِبُ عَلَيْهِ وَيَتَأَكَّدُ الْوَصِيَّةُ بِهِ أَنْ لَا يَحْسُدَ أَحَدًا مِنْ رُفْقَتِهِ أَوْ غَيْرِهِمْ عَلَى فَضِيْلَةٍ رَزَقَهُ اللهُ الكريم إِيَّاهَا وَأَنْ لَا يُعْجَبَ بِنَفْسِهِ بِمَا حَصّلَهُ، وَقَدْ قَدَّمْنَا إِيْضَاحَ هَذَا فِي آدَابِ الشَّيْخِ

“Di antara sesuatu yang wajib dan wasiat nan ditekankan yaitu tidak hasad lever kepada kawannya atau nan lainnya atas anugerah nan Allah berikan kepadanya. Dan tidak berbangga diri dengan apa yang ia hasilkan. Kami telah kemukakan penjelasan ini privat bab adab kepada guru.” (Imam an-Nawawi,
at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qur`ân, Dar el-Minhaj, halaman 70).

Baca: Lima Jurus Imam al-Ghazali moga Terhindar dari Ujub

Setelah mengingatkan seorang yang menuntut guna-guna agar menjauhi kedua sifat ini, Imam an-Nawawi lagi memberi tips buat memberantas rasa sirik dan ujub.

وَطَرِيْقُهُ فِي نَفْيِ الْعُجْبِ: أَنْ يُذَكِّرَ نَفْسَهُ أَنَّهُ لَمْ يُحَصِّلْ مَا حَصَّلَ بِحَوْلِهِ وَقُوِّتِهِ وَإِنَّمَا هُوَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْجَبَ بِشَيْءٍ لَمْ يَخْتَرِعْهُ وَإِنَّمَا هُوَ فَضْلٌ مِنَ الله تَعَالَى.

“Prinsip menghilangkan kebanggaan yakni dengan mengingatkan dirinya bahwa beliau bukan hingga ke kejadian itu dengan kiat dan kekuatannya. Semata-mata itu merupakan anugerah berpokok Yang mahakuasa ﷻ, dan enggak patut baginya bikin berbangga karena sesuatu yang tak diciptakannya, semata-indra penglihatan itu merupakan hadiah dari Almalik ﷻ.” (Pendeta an-Nawawi,
at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qur`ân, Dar el-Minhaj, halaman 70)

وَطَرِيْقُهُ فِي نَفْيِ الْحَسَدِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ حِكْمَةَ اللهِ تَعَالَى اقْتَضَتْ جَعْلَ هَذِهِ الْفَضِيْلَةِ فِي هَذَا، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَعْتَرضَ عَلَيْهَا وَلَا يَكْرَهَ حِكْمَةً أَرَادَهاَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكْرَهْهَا. وَاللهُ أَعْلَمُ.

“Cara menghilangkan sifat hasad yaitu dengan menyadari bahwa hikmah Allah lah yang memaui adanya kasih tersebut, maka patutnya kamu tidak menyanggah dan membenci hikmah yang telah Allah kehendaki dan lain Halikuljabbar benci.
Wallahu a’lam…

Dengan penjelasan Pendeta an-Nawawi yang simpel dan mudah kita pahami, setidaknya kita boleh meraba-raba bagaimana sikap kerjakan mencegah masuknya dengki dan ujub ke lubuk hati kita. Sepatutnya kita selalu dijaga Allah ﷻ bersumber segala problem hati nan akan mudarat kita, di dunia maupun di alam baka. Amiin…

(Amien Nurhakim)

Source: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/cara-menghilangkan-rasa-dengki-dan-ujub-cfUL5