Pencinta Nusa Dan Bangsa Sendiri

OLEH
PRIYANTONO OEMAR

Selama sidang-sidang Kongres Teruna Indonesia Kedua, para peserta menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, begitu juga dilaporkan
Darmokondo, koran milik Budi Utomo, “Nona Sitisoendari sebab tidak paham basa Indon, telah berbitjara n domestik basa Belanda.”

Detik itu, ia berbicara mengomentari isi syarah Muh Yamin plong hari pertama kongres. Di kemudian periode, engkau menikah dengan Muh Yamin. Yamin merupakan sekretaris panitia kongres dan yang menyiapkan naskah trilogi resolusi pemuda.

Naskahnya sudah disiapkan sejak Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada 2 Mei 1926, diberi nama Ikrar Teruna yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Teruna.

“Tiga serangkai, Tabrani-Soemarto-Yamin, bertugas mengulas, mengolah, merintis cita-cita ‘Satu Nusa, Satu Bangsa, Sependapat’. Kepada Yamin, diberi tugas merumuskan konsep usul yang akan dimajukan ke sidang umum Kongres,” tulis Tabrani, ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia Permulaan, intern sekapur sirih bikin terjemahan laporan panitia kongres.

Pada hari kedua kongres, Pekan, 28 Oktober 1928, Nona Poenamawoelan mendiktekan pidatonya juga dalam bahasa Belanda. “Karena sira tidak faham basa Indonesia, begitoepoen basa sendiri (Djawa) sebab di tanah Melajoe koerang banjak jang memaklumi, maka engkau terpaksa mempekerjakan basa Belanda,” catat
Darmokondo.

Program Kongres Jejaka Indonesia Kedua pada Ahad malam digambarkan makanya Ki MA Machfoed berlangsung internal suasana syahdu. Anda hadir di kongres sebagai salah satu utusan mulai sejak Jong Islamieten Bond. Inilah malam pembacaan Sumpah Bujang dan kinerja WR Supratman membawakan lagu “Indonesia Raya”.

“Banyak pasang mata tampak berkelip-kedip basah. Banyak pasang bibir tampak berkomat-komat-kamit syukur berlega hati kepada Tuhan YME. Tampak pun kini di mata batin kami banyak induk bala kita, antara lain, Mr Dr Mahammad Nazif (sekarang almarhum
Gouvernement Secretaries
VNI) mengguncang tangan penasihat Kongres Pemuda II nan sukses itu: Sugondo Djojopuspito, putra Tuban baka Adipati Ronggolawe, senopati agung negara Majapahit,” catat Machfoed di buku
45 Periode Sumpah Pemuda.

Selama kongres, agenda rapat umum dilakukan sebanyak tiga kali. Di rapat-berapatan masyarakat ini, kata Sugondo Djojopuspito selaku ketua panitia badan legislatif, dihadiri oleh pengunjung pelawaan dan masyarakat umum. Karenanya, total peserta kongres disebut berlainan-tikai. Ada yang menyebut ratusan, ada yang menegur ribuan.
Darmokondo
memanggil, dihadiri lebih cacat 1.000 orang.

Jumlah peserta kongres disebut berlainan-beda. Ada yang menyebut ratusan, ada yang menyebut ribuan.Darmokondomenyebut, dihadiri lebih kurang 1.000 orang.

Para remaja anggota pandu yang juga melibatkan diri dengan mengadakan pawai sepeda sore harinya –membawa bendera boncel merah-masif– merasa jengkel dengan perlakuan polisi yang merampas umbul-umbul-pan-ji-panji mereka.

Maka itu karena itu, seperti mana diceritakan Frits KN Harahap nan silam menjadi anggota pandu di rahasia
45 Tahun Serapah Pemuda, mereka meminggirkan sebaiknya kakak-kakak mereka sesegera mungkin melaksanakan acara Kutuk Pemuda. Mereka bukan luang kalau pembacaan Laknat Pemuda sudah dijadwalkan pada Ahad malam.

“Serapah Perjaka seperti yang umumnya diucapkan berbunyi sebagai berikut:  I. Bertanah air satu ‘Petak Air Indonesia’, II. Berbangsa suatu ‘Bangsa Indonesia’, III. Berbahasa satu ‘Bahasa Indonesia’. Isi Kutuk Pemuda tersebut merupakan resolusi nan disetujui maka dari itu Kongres Pemuda Kedua…” tulis Subagio Reksodipuro dan Subagijo IN, penyusun pusat
45 Hari Sumpah Pemuda.

N domestik kata pengantarnya, penerbit buku
Permakluman Kongres Pemuda Indonesia Pertama di Weltevreden
menyebut, “suatu nusa, suatu nasion, sepikiran persatuan, Indonesia”. Hingga kini, nan tenar adalah “satu nusa, suatu bangsa, seia sekata” begitu juga yang terserah di dalam lirik lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” karya L Manik.

Logo kudus Sumpah Pemuda itu adalah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Kedua. Mengulas hasil kongres itu,
Darmokondo
menurunkan catatan bersambung dengan judul “Satoe Toempah Darah, Satoe Bangsa, dan Satoe Basa” lega 7-10 November 1928.

Tapi, koran ini menganggap bahasa persatuan belum diperlukan. Sebab, tulis
Darmokondo, “Fatsal terpenting dari pergerakan jang bersemangat, hati bergerak jang senantiasa hidoep, jalah pikiran jang perloe dioendjoek disini ta’ dapat dipisahkan dari boedi pekerti.”

Tetapi,
Darmokondo
memuji Putusan Kongres Pemuda itu. “Soeatoe poetoesan signifikan jang sedikitnja tentoe merengoetkan lawan pergerakan nasional kita.” Putusan itu dinilai
Darmokondo
terbit dan bersendikan perasaan yang samudra.

Cak bagi mengulas putusan para bujang di kongres itu,
Darmokondo
mengutip pernyataan Mussolini. Prolog Mussolini, “Perasaanlah jang memboeat ra’jat bersirkulasi; lever, amat berlebihan tinimbang biang kerok. Perasaan itoelah kekoeatan jang terbesar. Ingatan mempengaroehi segala apa dan menghela-hela apapoen djoega. Ra’jat ditoentoen oleh perasaannja.”

Dengan dasar pernyataan Mussolini itu,
Darmokondo
menyatakan, “Bersandarkan atas itoe, maka poetoesan jang telah diambil, jalah bahasa pemoeda-pemoedi, poetra2 dan poetri2 kita mengakoe bertoempah darah satoe (Indonesia), berbangsa satoe (Indonesia), dan berbasa satoe (Indonesia), itoelah membesarkan pengharapan kita akan tenaga mereka jang tentoe terpakai apabila mereka telah tiba dipergaoelan hidoep Indonesia.”

Meski
Darmokondo
mengakui betapa menyemarakkan bahasa itu mesti dan menegur dirinya sebagai “Soerat harian oemoem dalam basa Indonesia (Djawa dan Melajoe)”, tetapi taat menganggap bahasa tidak sebagai yang terdahulu untuk persatuan. Rukyah ini bukan berjasa hendak memungkirkan bahasa, sebab bahasa merupakan gambaran budaya masing-masing nasion.

Bangsa minus bahasa yaitu bangkai kapal, tidak memiliki landasan nan kokoh.

Darmokondo
tinggal mengutip pendapat-pendapat ahli dari Barat terkait hubungan bahasa dan bangsa. Suka-suka juru yang memanggil bahasa ialah bukti keberadaan suatu nasion. Tapi, ahli lain membantahnya dengan mengatakan bahwa bukti dari suatu bangsa itu bukan dari persatuan adat-istiadat dan enggak-lain, dan terutama bukan pula dari persatuan bahasa. Bukti suatu bangsa yaitu karena kehendak menumpuk kekuatan kerjakan mengejar satu cita-cita menjadi satu bangsa.

Tabrani sebagai pengambil inisiatif nama bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan mengatakan di buku Ons Wapen yang sira terbitkan di Belanda pada 1929, “Makrifat bahasa Indonesia tidak satu-satunya karakteristik keindonesiaan kita.” Pernyataan Tabrani itu menunjukkan bahasa persatuan memang bukan satu-satunya yang mencantumkan persatuan bangsa cak bagi mencapai kemerdekaan.

Menurut Tabrani, antara bahasa persatuan dan rayapan independensi, saling mendukung. Bahasa persatuan itu, menurut Tabrani, merupakan senjata cak bagi menyampaikan ide-ide pertampikan, sehingga semakin banyak nan memahami ide-ide kemandirian itu.

“Nasion tanpa bahasa adalah bangkai kapal, tidak mempunyai landasan yang kokoh,” catat Tabrani di
Ons Wapen.

Source: https://www.republika.id/posts/22158/cerita-sumpah-pemuda-%E2%80%98satu-nusa-satu-bangsa-satu-bahasa

Originally posted 2022-08-05 13:47:32.